WALI KOTA BANDUNG MENJADI PEMBICARA DALAM ACARA TALKSHOW LINTAS AGAMA.

Tuesday, 14 Feb 2017
Oleh: Roni
Dibaca 66 kali
 | Sumber: Bag. Humas dan Protokol
Hidup ini penuh keragaman bukan keseragaman. Dalam bernegara harus menjaga kesatuan negara Indonesia dan bertoleransi dalam beragama. Karena Negara Republik Indonesia memiliki bermacam-macam suku, ras dan agama.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung M.Ridwan Kamil dalam acara talkshow lintas agama bersama pemuka agama dan elemen masyarakat dari berbagai penganut agama di Gereja Kristen Indonesia, Jalan Maulana Yusuf, Kota Bandung. Senin (13/02/2017) malam.

"Namun, masalahnya sekarang banyak orang yang tidak bisa menerima keragaman. Saya sudah berkomitmen untuk selalu menjaga kesatuan negara indonesia. Melalui forum ini saya ingin menyampaikan pentingnya toleransi beragama. Kita hidup di Negara yang bermacam-macam suku, ras dan agama,"ujarnya

Selain itu, Ridwan Kamil menuturkan setiap manusia ditakdirkan mempunyai identitas. Sebuah labelisasi supaya orang bisa memahami siapa dirinya. Namun, identitas bukan untuk alat menyekat, menjelekan dan merendahkan identitas lainnya.

"Kita semua mempunyai identitas, sebagai mahluk hidup kita ditakdirkan memiliki identiras. Identitas saya dilahirkan sebagai orang Islam, dan ada juga yang diberikan identitas sebagai umat kristiani, umat hindu dan umat budha. Namun semua itu bukan menjadi penyekat kita dalam berkehidupan di dunia ini," tuturnya.

Ridwan Kamil memberikan nasihat kepada semua yang menghadiri acara tersebut untuk menghormati identitas dan hormati batas-batas keragaman. Dalam agama Islam, ketika ingin memeluk Islam harus mengucapkan syahadat dan mengimani Allah dengan menjalankan segala Perintah-NYA dan menjauhi Larangan-NYA. Sama dengan agama lain mempunyai proses dan cara dalam beribadah.

"Kita harus menghormarti identitas orang lain dan hormati batas-batasnya. Niscaya tidak akan ada komplik yang terjadi dan tidak akan saling membenci. Akan tercipta suasana damai dan tentram. Karena semua agama mengajarkan untuk saling mencintai sesama manusia," ucapnya.

Wali Kota yang sering disapa Emil ini mengatakan, bahwa semua manusia adalah saudara, meski berbeda keyakinan dalam beragama. Semua itu harus disikapi dengan nilai toleransi yang tinggi. 

"Jika tidak bisa bersaudara dalam keimanan, tetaplah bersaudara dalam kemanusiaan. Kutipan ini menjadi dasar saya dalam bertoleransi. Kalau kita sudah bisa menerapkan filosofi ini, saya yakin tidak akan ada gontok-gontokan, tidak akan ada saling menjatuhkan," katanya.

Ridwan Kamil juga memberikan himbauan kepada semua masyarakat Kota Bandung untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam keseharianya, jangan saat beribadah saja. Terutama untuk umat muslim di Kota Bandung, karena agama Islam sendiri mengajarkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan hubungan antara manusia dengan manusia. 

"Agama itu harus menjadi keseharian kita, jangan hanya direduksi saat beribadah. Dalam beragama itu harus menjadi kesatuan berbangsa dan bernegara. Hebatnya orang bandung itu saling tolong menolong seperti saat KAA ibu-ibu pengajian patungan untuk mengecat sepanjang jalan asia-afrika dan batu-batu dengan tulisan negara-negara yang ada disana merupakan sumbangan dari jamaat gereja yang ada dijalan gardujati," imbuhnya.

Dalam penutupannya, Ridwan Kamil berharap Kota Bandung menjadi kota yang bertoleransi tinggi dalam beragama untuk menciptakan suasana yang nyaman. Emil juga mempunyai sebuah inovasi dalam bentuk aplikasi untuk mencegah terjadinya penyebaran ujaran kebencian.

"Saya tidak mau Bandung ricuh, saya ingin kota bandung damai melalui sebuah aplikasi yaitu Bandung Massagi, saya akan memantau jika ada sebuah ujaran kebencian dan akan menciptakan karakter anak di kota bandung yang mencintai Agama, Negara, Budaya dan Cinta Lingkungan," pungkasnya.

Dalam acara ini, salah satu narasumber dari Nahdatul Ulama (NU) Kiagus Zaenal Mubarak mengatakan, dalam rukun iman yang ke-4 umat Islam sudah dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada muslim untuk iman kepada kitab-kitab Allah. Selain itu, dalam konteks agama ada tiga pilar yang harus dilakukan pertama akidah, ibadah dan muamalah. 

"Selayaknya kita sebagai umat beragama harus menjaga kesatuan dan persatuan dalam bernegara. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. Sesuai rukun iman yang ke-4 umat Islam diwajibkan mengimani kitab-kitab Allah SWT," ujarnya.