GLF 2018 Diikuti 600 Peserta dari 88 Negara

Friday, 14 Sep 2018
Oleh: Zalfa
Dibaca 89 kali
 | Sumber: Dinas Komunikasi dan Informatika

 Kota Bandung akan menjadi tuan rumah Global Land Forum (GLF) 2018 yang akan diselenggarakan pada 24-26 September mendatang. Even internasional yang akan diikuti 600 peserta dari 88 negara ini, rencananya akan dibuka oleh Presiden RI, Joko Widodo.

"Ini adalah forum pertanahan terbesar di dunia dan akan dihadiri oleh 88 negara, termasuk organisasi-organisasi pembangunan dunia," ungkap Steering Committee Panitia Nasional, Iwan Nurdin pada acara Bandung Menjawab di Taman Sejarah Wiranatakusumah, Balai Kota Bandung, Jln. Aceh, Kamis (13/9/2018).

Menurut Iwan, tak hanya dihadiri peserta dari luar negeri, acara yang tahun ini mengusung tema keadilan dan perdamaian atau United For Land Right Peace and Justice, juga mengundang pegiat pertanian dan pertanahan dari seluruh Indonesia. "Panitia menyediakan kuota untuk 200 pegiat pertanian dan pertanahan di Indonesia," katanya.

Global Land Forum (GLF) 2018 akan digelar di Gedung Merdeka, Bandung. Acara ini terdiri dari berbagai konferensi yang akan membahas tentang isu-isu penting tentang pertanahan.

"Kita akan membicarakan isu terpenting yaitu land atau tanah. Karena tanah itu tidak bertambah sementara manusia terus bertambah," katanya.

Pertanahan, ungkap Iwan, merupakan topik yang sangat penting untuk dibicarakan. Pasalnya banyak tanah yang dikuasai oleh segelintir orang, sementara banyak orang yang tidak memiliki hak atas tanah.

"Ada banyak ketimpangan kekuasaan yang harus segera diantisipasi. Kita akan membahas secara detil bagaimana solusinya agar ketimpangan ini tidak semakin jauh. Kita akan bahas isu-isu perkotaan, perdesaan, pertanian, dan lain-lain," lanjutnya.

Iwan mengemukakan, kegiatan ini juga sarat dengan makna-makna sejarah. Kota Bandung dipilih karena dikenal dengan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang mendunia. Lokasinya pun di tempat paling bersejarah di Kota Bandung, yaitu Gedung Merdeka.

"Tanggal 24 September dipilih karena itu adalah hari lahir Undang Undang Pokok Agraria. Dan juga tanggal 25 September adalah hari jadi Kota Bandung," tuturnya.

Undang Undang Pokok Agraria, lanjut Iwan, merupakan sejarah. Aturan yang dikeluarkan pada tahun 1960 itu menjadi tonggak komitmen Pemerintah Indonesia dalam kebijakan pertanahan.

"Undang Undang Agraria mengamanatkan reformasi di bidang pertanahan, karena pertanahan kita awalnya dijajah dan sekarang harus menjunjung amanat reformasi itu," tegasnya.

Di sisi lain, Konferensi Asia Afrika menjadikan Kota Bandung memiliki alasan yang kuat untuk menyuarakan semangat solidaritas yang digaungkan peristiwa itu. Hal itu sejalan dengan tema GLF tahun ini yaitu keadilan dan perdamaian.

"Kota Bandung melahirkan gagasan besar tentang kemerdekaan keadilan perdamaian persaudaraan dan lain-lain melalui KAA. Hal itu yang juga akan kita suarakan di GLF," tuturnya.